Menghindari perundungan ,bullying yang di lakukan anak -anak melalui pendidikan dengan rasa cinta,kasih sayang (Theaching With Love )

  

 



      Dalam Al Qur'an ,Allaah SWT mengatakan bahwa apabila Nabi Muhammad bersikap kasar pada umatnya,niscaya mereka akan lari ,tidak mengikuti Nabi SAW.Maka Nabi di suruh oleh Allaah untuk bersikap lembut,penuh kasih sayang pada umatnya dalam berdakwah,mendidik menapaki jalan Tuhannya.
  Ayat Al Qur'an yang menyatakan hal di atas terdapat pada surah Ali Imran Ayat 159,yaitu :


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159).

   Mendidik anak - anak sama halnya berdakwah,mengajak mereka untuk memahami ilmu pengetahuan,karakter yang baik .Untuk selanjutnya di gunakan untuk bekal hidupnya ,menjalani hidupnya di dunia ,maupun kelak di akhirat.Maka cara terbaik mendidik anak -anak adalah dengan rasa cinta dan kasih sayang.Menurut psikolog keluarga Ketti Murtini,orang tua perlu mendidik anak -anak dengan kasih sayang yang tepat,agar sang buah hati dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki konsep diri dan karakter yang baik.

    Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling peduli,paling mengasihi  orang lain,terlebih kepada anak - anak .Suatu ketika Nabi Muhammd Saw mencium Hasan bin Ali di sebelah Aqra’ bin Habis. Melihat hal tersebut Aqra’ berkata, “Sungguh saya memiliki sepuluh orang anak, tidak ada seorang pun yang pernah saya ciumi di antara mereka.” Rasulullah memandangnya kemudian bersabda: “Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).

     Anas bin Malik adalah pembantu Nabi SAW yang selalu melayani keperluan Nabi.Anas walaupun seorang pelayan ,tetapi Nabi SAW  memperlakukannya seperti anaknya sendiri,hingga Nabi mengundang anas denga sebutan Unais,yang berati anaku.Isteri Nabi Muhamammad SAW,`Aisyah RA , “Rasulullah tak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, baik itu perempuan, maupun pembantu, melainkan dalam jihad (perang) di jalan Allah .” (HR. Muslim).

   Rasulullah Saw juga sering kali mendo’akan Anas bin Malik. Salah satu do’a beliau Saw untuk Sahabat Anas adalah: ‘Allahumma arzuqhu maalan wa waladan, wa baarik lahu,’ (Ya Allah, berikanlah ia harta dan keturunan serta berkahilah hidupnya.’

     Allah swt pun mengabulkan do’a Nabi-Nya, Anas menjadi orang dari Kaum Anshar  yang paling banyak hartanya. Ia memiliki keturunan yang amat banyak, anak serta cucunya melebihi 100 orang. Allah swt pun memberikan keberkahan pada umurnya sehingga ia hidup satu abad (100 tahun) lamanya ditambah 3 tahun lagi. Setelah Rasulullah Saw wafat, Anas masih hidup lebih dari 80 tahun lamanya.Dan Anas bin Malik adalah termasuk sahabat nabi yang banyak meriwayatkan hadis nabi.Bahkan Abu hurairah RA mengatakan Anas lah yang sholatnya paling mirip dengan Nabi. Muhammad.
 

   Berikut ada sebuah puisi pendidikan yang di buat oleh pakar pendidikan dan ahli konseling keluarga,Dorothy Law Nolte,Ph.D. ini diambil dari halaman vi dari buku Children Learn What They Live: parenting to inspire values yang disebutkan tadi.

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

     Berikut ini adalah terjemahan yang diberikan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual; refleksi-sosial seorang cendekiawan Muslim (Bandung: Mizan, Cet. X, 1998, hal. 187).

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.


     Sebagai pendidik sudah semestinya mendidik anak didiknya di dasari dengan cinta,kasih sayang .Sebagaimana yang telah di contohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ,dan para pakar pendidikan. Sehingga akan lahir generasi -generasi yang tidak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan ,tapi baik dalam karakternya.

   WALLAAHU A'LAM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reward sebagai strategi efektif dalam pembelajaran

Dakwah online bagi Santri